Mahasiswa, Begini Caramu Menyampaikan Pendapat

Siapapun kamu, asal berstatus Warga Negara Indonesia (WNI) bisa berpendapat menurut pemikirannya sendiri karena sudah dijamin oleh Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Ada yang menggunakan haknya secara benar dan bertanggungjawab, ada pula yang kebablasan dan melanggar aturan. Berpendapat, tentu saja memerlukan cara dan etika yang benar, tidak sembarangan pastinya.

Bagi Mahasiswa, sebagai seseorang yang pendidikannya “berkasta” paling tinggi mesti mengetahui bagaimana cara dan etika dalam mengemukakan pendapat. Kamu mahasiswa kan? Kalau iya, kita mesti paham untuk apa sih kita berpendapat. Tentunya, hal itu untuk mencapai sebuah tujuan atau mewujudkan keinginan, baik bermotif pribadi sampai pada kebutuhan orang banyak.

Lalu, bagaimana cara dan etika dalam mengemukakan pendapat? Banyak cara kok, tapi ngga semua cara bisa mempan untuk dilakukan. Tergantung pada sasaran/objek yang dituju, cara yang digunakan juga bisa berbeda. Gunakan powermu dengan baik ya, dan cara-cara ini bisa jadi referensi yang bagus, diantaranya :

1. Media Sosial
Saya rasa sih, semua orang bisa berpendapat di media sosial. Ngga harus berstatus mahasiswa, semua orang sudah bisa update apa yang ia mau sampaikan pada khalayak dunia maya pada umumnya.

Banyak juga gerakan dunia maya dengan #hashtag yang macem-macem jenisnya tiap hari, bahkan ada yang tanpa perlu mikir, makanya kita harus pandai menyaring yang mana yang benar sekaligus berkualitas. Mahasiswa jaman sekarang juga banyak mengirim jarkoman berita + diskusi via medsos. Yup, metode ini begitu mudah, murah, dan bisa dilakukan kapanpun, tapi sayang, tingkat keterdengarannya tidaklah efektif. Tidak ada yang terlalu spesial dalam berpendapat di medsos, kecuali kamu orang penting ya bolehlah banyak yang read juga lumayan. Tapi kalau orang-orang biasa, sepertinya masih harus berjuang untuk lebih meyakinkan pembacanya.

2. Menulis + Propaganda
Cara yang selanjutnya adalah dengan menulis dan membuat propaganda. Cara ini ngga bisa dilakukan semua orang, karena cara ini membutuhkan keahlian yang spesifik. Tapi saya yakin, mahasiswa bisa melakukannya, asal dia mau. Cara berpendapat ini bisa dinilai khusus karena karena menuntut skill dari pemikiran yang diolahnya. Misalnya, kita mau berpendapat tentang jebloknya Rupiah nih. Kalau kita mau pakai media tulisan, kita tentu harus memiliki pengetahuan yang cukup, kemudian analisis yang tepat mengenai masalah yang kita soroti. Ini tidak mudah, oleh karena itu hal yang tidak mudah tentu dianggap lebih spesial.

Kalau kamu jago nulis, maka tulisan kamu bisa dibaca oleh mahasiswa se-kampus entah lewat mading, majalah kampus, dan sebagainya. Atau cara lain juga dengan membuat propaganda lewat poster atau video, misalnya tentang menghindari praktek korupsi. Dibutuhkan skill yang tidak main-main untuk mengolah pesan moralnya agar yang melihat menjadi tergerak untuk melakukannya. Intinya kalau kamu jago nulis dan membuat propaganda, pendapatmu akan lebih banyak dilihat oleh orang lain karena tidak semua orang bisa melakukannya.

3. Diskusi
Berdiskusi merupakan cara yang agak lebih baik dalam berpendapat. Teman diskusi pun bisa menyesuaikan, bisa dari hanya berdua hingga berbelas orang jumlahnya. Bisa dari warung kopi, sampai ke ruang kelas. Dengan berdiskusi, kamu benar-benar memiliki pendengar versi dunia nyata. Diskusi yang berkualitas pun tentunya bisa ditandem dengan pemikiran orang lain, bahkan debat berkualitas pun bisa dihadirkan dalam diskusi. Ngga main-main, kalau kita mau melakukan crossfire untuk mempertahankan pendapat kita atas orang lain, maka kita harus menyiapkan materi dan fakta yang cukup.

Berdiskusi, bisa pula menjadi ajang berbicara yang sehat dan mencerdaskan. Sebagai mahasiswa, ngobrolin bangsa ini bisa dimulai dari warung kopi, asal kita mau diskusi. Nah, semakin baik diskusi ini bila tercatat agar dapat dipelajari ulang.

4.Turun ke Jalan
Ini mahasiswa banget! Sudah menjadi gambaran kalau mahasiswa yang kritis itu seperti ini. Tetapi, turun ke jalan hanyalah salah satu cara dari berbagai cara untuk menyuarakan pendapat. Sebenarnya, pola turun ke jalan ini lebih menitikberatkan pada sebab tidak terciptanya komunikasi yang baik antara rakyat dengan pemimpinnya, sehingga rakyat terpaksa turun ke jalan agar ia didengar. Reformasi tahun 1998 lalu terjadi karena rakyat melihat caranya protes dengan turun ke jalan adalah yang terbaik. Metode itu pula yang dipelihara subur oleh sebagian mahasiswa yang memilih untuk bersuara dengan turun ke jalan. Bila efeknya masif, maka mahasiswa yang turun ke jalan akan “didengarkan” tapi cara ini punya efek samping yang banyak pula, berawal dari kemacetan lalu lintas, hingga resiko nyawa melayang.

Buat aktivis sendiri, biasanya cara turun ke jalan dibedakan menjadi dua, yaitu aksi damai dan demonstrasi itu sendiri. Aksi damai biasanya merujuk pada suatu cara untuk menyebarkan informasi skala masif yang bertujuan untuk mencapai sebuah tujuan. Kalau aksi turun ke jalan yang bersifat lebih pada aspirasi disebut demonstrasi. Tapi jangan sesat paham, untuk menjalankan demo tidak asal ramai dan bikin ricuh, sebelum itu pada suporter aksi biasanya sudah membuat janji dahulu dengan pihak kepolisian agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Demo, biasanya jadi media “tunggal” yang dipelihara subur oleh Mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya pada pemimpin. Sasaran demo pun biasanya di tempat yang strategis, agar aspirasinya dapat mencuri perhatian dan berpotensi didengarkan.

Begitulah, kawan. Sebagai mahasiswa, ada banyak cara yang bisa digunakan untuk menyampaikan pendapat. Bisa jadi selain diatas ini ada cara lain lagi. Tentu saja, cara apapun itu tetap harus mengedepankan etika yang baik, agar pendapat yang baik tidak tercoreng oleh cara yang tidak baik. Selamat mencoba, karena menjadi mahasiswa yang diam-diam saja tentu akan merugi. Bicaralah mengenai kampusmu, lingkungan sekitarmu, hingga kondisi negerimu.

Sekarang giliranmu. Kamu pasti bisa!

Postingan terkait:

loading...