Saya Bukan Anak Seorang Penguasa, Maka Saya Menulis

Sudah lama saya suka dengan menulis. Sejak pertama kali bisa mengeja huruf menjadi kata, kemudian mengumpulkan menjadi sebuah kalimat, saya sudah jatuh cinta menulis dan membaca.

Mungkin juga almarhum Ayah saya yang saat itu begitu ingin anak-anaknya bisa bersekolah atau berpendidikan memberikan dorongan begitu besarnya. Ibu saya? Walaupun hanya lulusan sekolah dasar namun begitu bersemangat melihat saya pertama kali melangkahkan kaki ke sekolah.

Ketika masih sekolah dasar saya menjadi sedikit “kutu buku” untuk ukuran seorang anak SD.

Hampir semua buku yang saya punya atau pinjam, saya “lahap” walau kadang dalam waktu yang relatif lama.

Saya benar-benar masuk kategori kutu buku dibandingkan teman-teman saya saat itu.

Hasilnya? Tentu saja saya menjadi orang yang selalu mendapat ranking di kelas.
Saya bahkan masih ingat, teman-teman saya banyak memberikan kata-kata mutiara dari berbagai penulis terkenal.

Sebut saja Pram, misalnya. Dengan kata-kata mutiara terkenalnya soal menulis “Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di masyarakat dan dari sejarah”.

Atau ada juga teman lain menyemangati dengan kata-kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. 

Lantas sebuah quote dari seorang  Ulama besar, Imam Al-Ghazali membimbing saya. “Jika Kau Bukan Anak Penguasa, Juga Bukan Anak Ulama Besar, maka Menulislah!” Sebuah quote yang langsung menampar saya. 

Mengingatkan saya kembali kepada almarhum ayah saya. Bernostalgia saat saya mulai begitu sangat dikagumi oleh kedua orag tua saya karena bisa menulis nama sendiri ketika itu.

Dan saat ini saya memiliki misi menuliskan apa yang sudah saya baca. Kira-kira begitu yang terlintas di pikiran saya ketika mengigat almarhum ayah saya.

Kata-kata Mutiara Al-Ghazali ini benar-benar menjadi semacam penyemangat saya. Mengapa bisa demikian? Saya kembali teringat aalmarhum ayah saya. Bukan hanya dalam banyangan wajah, tapi juga apa yang dilakukan beliau selama hidupnya.

Secara hitungan, saya mengenal ayah saya secara singkat. Bukan karena meninggalnya beliau yang bisa dibilang cukup cepat, tapi beliau senang melihat ketika saya pertama kali bisa menulis.

Maka tidak heran, ketika Imam Al-Ghazali mengingatkan saya tentang menulis, saya teringat orang tua saya. Ya benar, orang tua saya bukan Ulama Besar, dan lebih-lebih bukan seorang Penguasa. Bukan pejabat. Dan beliau sudah menunjukkan jalan itu awalnya kepada kami, kepada saya. Beliau juga bukan anak seorang ulama.

Imam Al-Ghazali dan tentu saja Ayah saya sendiri telah menginspirasi saya untuk menulis. Ayah saya bukan Penguasa dan juga bukan ulama maka saya terinspirasi darinya untuk menulis. Terimakasih, Ayah.

Postingan terkait:

loading...