Mengenal Rasullulah



Tak kenal maka tak sayang, begitulah pepatah mengatakan.

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wa Sallam dilahirkan dari seorang ayah bernama "Abdullah" dan ibu bernama "Aminah". Tentu saja hal ini bukanlah kebetulan, melainkan sebuah takdir ilahi yang telah digariskan. 

Ibunda Muhammad Shallallahu alaihi Wa Sallam memiliki nama yang mengandung arti "aman" (al-amn) dan "amanah" (al-amanah), sementara sang ayah memiliki nama yang mengandung arti penghambaan diri (al-ubudiyyah) kepada Allah.

Sungguh fakta ini menunjukkan bahwa jauh sejak sebelum kelahirannya, Muhammad Shallallahu alaihi Wa Sallam telah disiapkan Allah. Sebelum diangkat menjadi rasul, sang al-Amin (yang terpercaya) harus hidup di dalam atmosfer ubudiyyah (penghambaan diri) kepada Allah Subhanallahu wa Ta'ala.

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wa Sallam telah ditinggal meninggal ayahnya ketika beliau masih berada dalam kandungan. Pada usia enam tahun, beliau kecil ditinggal meninggal oleh ibundanya sehingga beliau pun diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthallib. Pada usia delapan tahun, kakeknya juga meninggal dunia.

Demikianlah seakan takdir telah sedemikian rupa mengarahkan beliau untuk menjauh dari ketergantungan terhadap manusia dan hanya menyerahkan dirinya kepada Allah semata. 

Setiap kali ada tangan yang menjulur untuk menolongnya, tiba-tiba saja sang penolong itu pergi untuk selamanya. Demikianlah takdir membuat beliau selalu berada di bawah perlindungan langsung dari Allah Subhanallahu wa Ta'ala. Dengan cahaya tauhid dan rahasia keesaan-Nya.

Sejak belia (kecil) beliau terus ditempa untuk selalu berucap "hasbiyallah." (Cukup Allah saja bagiku) secara lahir dan batin. Sebab adalah penting baginya untuk kehilangan arti dari semua penolong selain Allah, dan ternyata memang itulah yang terjadi pada kehidupan beliau.

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wa Sallam tumbuh besar sebagai seorang yatim. Padahal di depannya telah menanti tanggung jawab yang amat berat dan penting sehingga pribadi beliau, memang harus disiapkan sejak dini. Sejak muda, beliau telah dibentuk menjadi pribadi yang berhasil mencapai puncak tawakal kepada Allah dan siap menyongsong semua aral yang melintang.

Allah seperti sengaja menghalangi beliau dari kekayaan materi yang dapat menumbuhkan sikap gegabah dan sombong. Tapi Allah juga sengaja menghindarkan beliau dari kemelaratan yang mencekik agar beliau tidak tumbuh menjadi pribadi minder yang rendah diri. 

Allah benar-benar membentuk beliau menjadi sosok lurus yang berada di garis tengah kehidupan, jauh dari sikap berlebihan dan meremehkan (ifrath wa tafrith).

Amatlah penting bagi seorang pemimpin untuk mampu melewati masa-masa sulit. Seorang yang memahami arti hidup sebagai anak yatim, pasti akan mengetahui cara untuk menjadi ayah yang penyayang bagi keluarga dan umatnya. Seorang pemimpin juga harus pernah merasakan pahitnya kemiskinan agar ia mampu merasakan getirnya kehidupan rakyat jelata yang dipimpinnya.

Demikianlah seterusnya sehingga sikap suka membantu anak-anak yatim dan kaum miskin sembari terus peduli akan penderitaan yang mereka alami benar-benar menjadi akhlak yang dimiliki Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wa Sallam, sejak beliau belum diangkat sebagai nabi.

Karena sejak kecil beliau terus menghirup dan meresapi semua yang telah disiapkan Allah itu. Dan ketika "buah" itu akhirnya masak, Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Sallam sama sekali tidak tercerabut dari budi pekerti luhur yang telah menyatu dengan pribadi beliau. 

Di sepanjang hidupnya, tak pernah sekali pun Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Sallam mengahrdik anak yatim atau mengusir seorang pengemis. Hal itu terjadi disebabkan apa yang telah diajarkan Allah kepadanya seperti yang dinyatakan dalam firman-Nya.

"Bukankah Dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia (Allah) melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)."(QS al-Dhuha : 6-11)

Terus terang, setiap kali saya membaca ayat ini, yang terbersit di dalam benak saya adalah keinginan untuk menyatakan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Sallam tentang keyatiman saya, sebab beliau kelak akan  menjadi pemberi syafaat bagi kita semua. Sungguh saya yang telah kehilangan ayah saya sejak saya masih kecil, ingin berata kepada beliau. "Wahai Rasullulah, akupun seorang yatim, kini aku mengetuk dipintumu, maka tolong jangan kau usir aku di hadapanmu dan jangan kau usir aku dari syafaatmu."

Postingan terkait:

loading...